Selasa, 29 Desember 2015

NILAI-NILAI PERJUANGAN DALAM NOVEL LASKAR PELANGI BAB 4

Kata Pengantar
  Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayat nya kami dapat
menyusun karya tulis ilmiah ini.
  Karya tulis ilmiah ini kami susun berdasarkan kutipan dari novel “Laskar
Pelangi” Bab-4 ,  bertujuan agar pembaca mengetahui unsur-unsur dan nilai
nilai yang terdapat dalam novel ini yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari ,  yang telah disah kan oleh guru pembimbing .
  Dengan karya ilmiah ini kami harap pembaca dapat berfikir tenggang rasa
terhadap perkembangan hidup dan kelangsungan dunia, agar negara ini  dapat
bersaing di era globalisasi.
  Akhir kata , selamat membaca dan semoga bermanfaat .












ii
Daftar Isi

  Lembar Pengesahan                                                                   i
  Kata Pengantar.............                                                             ii
  Daftar Isi.......................                                                             iii
  BAB 1  Pendahuluan
A.       Latar Belakang                                                                     1
B.       Perumusan Masalah                                                              1
C.       Tujuan Penelitian                                                                  1
D.       Manfaat Penelitian                                                                1
E.        Metode Penelitian                                                                 2
F.        Sumber Data............                                                             2
  BAB 2  Pembahasan
A.       Nilai-nilai Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Novel                              3
B.       Pengertian Nilai-nilai Perjuangan                                         4
C.       Nilai-nilai Perjuangan dalam Novel Laskar Pelangi                         4
  BAB 3  Penutup
A.       Simpulan..................                                                             5
B.       Saran........................                                                             5
  Daftar Pustaka..............                                                             6





iii
  BAB 1  Pendahuluan
A.                     Latar Belakang
  Karya lmiah ini mengandung makna nilai-nilai hidup terutama nilai perjuangan, yang dimulai dari kisah beberapa anak yang mempunyai cita-cita yang luhur dan tangguh,  mereka tidak mengenal lelah dan  selalu berfikiran panjang akan  hidup mereka selanjutnya, serta mereka tidak melihat   kehidupan mereka yang miskin , yang mereka fikirkan bagaimana caranya mereka bisa menggapai cita-cita mereka supaya kehidupan masa depan tidak seperti sekarang  yang  mereka alami.

B.       Perumusan Masalah
1.                   Apa tema dari Novel Laskar Pelangi ?
2.                   Bagai mana alur cerita dalam Novel Laskar Pelangi?
3.                   Apa latar cerita dalam Novel Laskar Pelangi?
4.                   Siapa saja tokoh dan penokohan dalam Novel Laskar Pelangi?
5.                   Apa amanat dalam Novel Laskar Pelangi?
6.                   Apa arti nilai perjuangan ?
7.                   Apa nilai perjuangan dalam Novel Laskar Pelangi?

C.       Manfaat Penelitian
1.    Untuk mengetahui tema dari Novel Laskar Pelangi.
2.    Untuk mengetahui alur cerita dalam Novel Laskar Pelangi.
3.    Untuk mengetahui latar cerita dalam Novel Laskar Pelangi.
4.    Untuk mengetahui tokoh dan penokohan dalam Novel Laskar Pelangi.
5.    Untuk mengetahui amanat dalam Novel Laskar Pelangi.
6.    Untuk mengetahui arti nilai perjuangan.
7.    Untuk mengetahui nilai perjuangan dalam Novel Laskar Pelangi.









1
D.  Metode Penelitian
1.    Metode Deskriptif
  untuk menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek dan subjek yang diteliti secara tepat.
2.    Metode Analitik
  Pengarang menggambarkan watak tokoh secara langsung.


E.   Sumber Data
  Novel Laskar Pelangi Bab 4.















2
  BAB 2  Pembahasan
A.                     Nilai-nilai Intrinsik dan Ekstrinsik dalam Novel
Ø  Intrinsik :
1.   Tema
  Menceritakan tentang seorang guru yang ikhlas mengajar semua pelajaran dan hanya diupah beras 15 kilo setiap bulan.
2.   Plot (alur)
  Campuran.
3.   Latar Cerita
a.          Latar Tempat
  Disekolah SD Muhammadiyah.
b.    Latar Waktu
   Siang hari.
c.    Latar Suasana
   Kagum, sedih dan bahagia
4.   Tokoh dan Penokohan
   Bu Muslimah. Wanita bernama lengkap N.A. Muslimah Hafsari ini adalah guru di SD Muhammadiyah. Ia sangat gigih dalam mengajar meski pun gajinya belum dibayar. Ia sangat berdedikasi terhadap dunia pendidikan dan dengan segenap jiwa mengajar murid-murid di SD Muhammadiyah. Wanita cantik yang menyukai bunga ini memiliki pendirian yang progresif dan terbuka terhadap ide-ide baru. Ia termasuk orang yang sabar dan baik hati.
5.   Amanat
   Sebagai guru harus ikhlas mengajar dan mendidik kepada para murid.
Ø  Unsur Ekstrinsik :
1.    Latar Belakang Religi (agama)
  Nuansa keislamannya begitu kental.
2.    Latar Belakang Ekonomi
Tingkat ekonomi masyarakat belitong sangat rendah, sehingga para guru hanya di upah beras 15 kilo oleh para orang tua murid.
3.    Latar Belakang Pendidikan
Tingkat pendidikan di belitong sangat minim.
3
B.     Pengertian Nilai-nilai Perjuangan
  nilai perjuangan yaitu hasil kerja keras dari suatu masalah dan dapat memberikan arti penting dlm pemecahan masalah tersebut.
 
C.     Nilai-nilai Perjuangan dalam Novel Laskar Pelangi
  Seorang guru yang mengajari semua mata pelajaran di SD Muhammadiyah dengan ikhlas, beliau hanya di gaji dengan 15 kilo beras per bulan, dan untuk menambah penghasilan beliau menerima jahitan sampai jauh malam.
















4
BAB 3  Penutup
A.    Simpulan
  Jadi pendidikan sangat penting bagi kita semua untuk memejukan negara kita yang tertinggal oleh negara lain.


B.     Saran
  Untuk semua guru mengjari murid-murid itu harus ikhlas, penuh kesabaran, dan harus mengajarinya semaksimal mungkin supaya anak-anak yang kalian bimbing berkualitas tinggi.














5

Daftar Pustaka

   Hirata, Andrea. 2007. Laskar Pelangi. Yogyakarta : Bentang

PENGARUH SINETRON TERHADAP POLA PIKIR GENERASI MUDA


     Saat ini Indonesia patut bangga terhadap pertelivisian Indonesia  karena telah berkembang pesat, bisa kita lihat dengan sudah banyaknya stasiun – stasiun televisi swasta yang saling berlomba menyuguhkan tayangan – tayangan untuk pemirsanya. Tayangan – tayangan berita seperti Seputar Indonesia, Liputan 6, dan yang lainnya. tayangan berita yang disuguhkan telah memberikan informasi – informasi yang tajam, akurat, dan objektif, televisi juga telah membantu anggota masyarakat dalam memahami berbagai persoalan aktual di berbagai bidang. Media televisi juga menyuguhkan acara – acara yang dapat memperluas wawasan publik seperti, talkshow (kick andy), diskusi (mata najwa), dan acara – acara edukasi lainnya.
     Saat ini televisi menjadi salah satu sahabat bagi para anak – anak, remaja, dan seluruh masyarakat Indonesia dengan ber bagai suguhan menarik yang mampu menemani mereka bersantai di rumah, seperti kartun, acara musik, acara olahraga, dan lainnya di waktu senggang atau weekend. Namun, saat ini tampaknya stasiun - stasiun televisi berlomba - lomba mempertontonkan cerita dalam bentuk sinetron. Sekarang ini,  sinetron sedang menjadi wajah pertelevisian Indonesia dibandingkan acara – acara yang lebih positif lainnya . Sebagai contoh, anak – anak / remaja zaman sekarang ditanya tentang tontonan di salah satu stasin TV misalnya (RCTI), pasti mereka langsung menjawab Anak Jalanan yang saat ini lagi trand dan itu sudah tertanam di benak mereka.  Zaman dulu, berbagai acara anak masih sering kita temui di televisi seperti Si Komo, Captain Tsubasa, Let’s and Go, Digimon, Saras008, Tralala . . Trilili, dsb yang justru tayangan seperti itu yang sesuai dengan umur anak –anak, tetapi sekarang, anak-anak di bawah umur seperti terintimidasi oleh tayangan – tayangan dewasa seperti percintaan, pernikahan, perceraian, pertikaian tayangan – tayangan seperti ini belum pantas/ sesuai dengan tontonan yang seharusnya diliat oleh anak –anak.
     Demi mendapatkan rating yang tinggi dari pemirsa, hampir semua stasiun televisi saling berlomba menayangkan sesuatu yang sedang menjadi trend dan banyak di saksikan oleh penonton, tidak lain hanya untuk mendapatkan rating yang tinggi sehingga menaikkan rating stasiun televisi mereka. Salah satu contohnya sinetron, ada banyak stasiun televisi di Indonesia yang sering menampilkan sinetron-sinetron yang sebenarnya itu hanya di peruntukan bagi orang tua bukan anak – anak/ remaja. Namun karena jam tayang yang memungkinkan bagi anak untuk menonton, maka anakpun ikut menontonnya. Cerita yang sering ditampilkan di sinetron tersebut adalah cerita mengenai kehidupan remaja yang hidup dalam kemewahan, bersekolah di sekolah yang elit, mempunyai geng, dan kehidupan rumah tangga yang begitu kompleks seperti perselingkuhan yang memyebabkan perceraian. sinetron seperti ini seharusnya tidak layak untuk di tonton oleh anak – anak.
     Sebenarnya bukan hanya dari tontonan televisi saja,  penting juga peran orang tua untuk mengawasi anak – anaknya memilih acara televisi yang baik, Namun, stasiun televisi sekarang jarang memberikan tontonan yang mengedukasi bahkan kita harus berlanggan tv prabayar karena disitu terdapat tontonan- tontonan yang lebih mengedukasi.  Untuk beberapa orang tua membiarkan anak-anaknya menonton televisi selama berjam – jam karena kesibukan orang tua mereka, dengan asumsi bahwa mereka terhibur dengan acara yang disuguhkan, tanpa melihat mamfaat dan pengaruhnya terhadap perkembangan jiwa dan mental anak – anaknya.
      Apabila dari masa anak – anak dan remaja sudah disuguhkan tayangan – tayangan untuk orang dewasa itu akan mempengaruhi pandangan mereka. Seperti mereka menganggap betapa enaknya hidup dengan rumah yang besar dan mobil yang mewah yang bisa ia bawa kapan saja bahkan mereka bawa untuk pergi kesekolah. Biasanya tayangan – tayangan seperti itu menampilkan sisi enaknya saja tanpa dilihatkan sisi kerja kerasnya untuk mencapai hal kemewahan tersebut. Secara tidak langsung mereka akan terdoktrin di pikiran mereka bahwa hidup selalu enak dan apa saja yang kita inginkan pasti ada, padahal sebenarnya tidak seperti itu.Seharusnya yang ditonjolkan dari suatu tontonan dimana Kita harus bekerja keras dan harus selalu mensyukuri hidup, tidak boleh selalu melihat “keatas”.
      Bahkan, lebih mirisnya lagi bagi umat muslim mereka sampai rela tidak pergi ke Masjid / sholat karena sinetron yang sedang mereka senangi sedang tayang mereka lebih rela hal seperti itu tidak di jalankan, asalkan sinetron kesayangan mereka tidak terlewati. Dan saat menonton sinetron mereka marah / bahkan seolah – olah mereka ikut tersakiti apabila pemeran utama dari sinetron kesayangannya tersakiti, mereka pun menangis, dan bahagia setiap kali pemutaran sinetron kegemarannya. Dampak lain dari sinetron yang di tonton anak atau remaja yang fanatic adalah mereka akan merasa ketergantungan dengan televisi, mereka akan malas melakukan kegiatan lain selain menonton televisi. Mereka akan cenderung meniru apa yang mereka lihat karena apa yang mereka lihat adalah apa yang mereka kerjakan.
     Masalah yang sering kita jumpai juga vulgarisme dari tayangan – tayangan sinetron. Indonesia adalah salah satu negara yang mayoritas masyarakatnya adalah masyarakat muslim yang berkiblat pada kehidupan Timur bukan Barat. Akan tetapi, semakin kesini semakin menjunjung tinggi fashion kebarat – baratan  seperti dipertontontontkan dalam sinetron-sinetron berbusana ketat, bercelana / rok pendek, modis ala- ala sosialita, yang akan berdampak negatif bagi para generasi muda mendatang. Krisis moral untuk para generasi muda akan muncul apabila itu semua tidak di hentikan. Dan keadaan ini akan bertambah parah jika peran orang tua sendiri tidak mampu memberi perhatiannya kepada anak – anaknya yang mengakibatkan mereka kurang kasih sayang, dan mencari tokoh yang lebih baik menurutnya dari tempat lain, dan  mereka temukan didalam sinetron yang mereka tonton.
Berikut dipaparkan dengan lebih detail mengenai jenis cerita dan pengaruhnya terhadap pemirsa
Tema ghaib (horor)
– Mendorong orang untuk percaya bahwa ada makhluk selain jin dan manusia, yaitu turunan setan seperti pocong, hantu, dan kuntilanak. Padahal Allah menegaskan di dalam kitab suci Al-Qur’an bahwa Allah tidak menciptakan selain jin dan manusia. Allah berfirman
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Adz Dzaariyaat : 56
– Menimbulkan kesyirikan dengan percaya kepada selain Allah. Dan menyelesaikan masalah ghaib ini dengan perantara manusia yang memiliki kemampuan supranatural.
– Menakut-nakuti diri sendiri dengan bayangan setan (padahal manusia adalah makhluk yang mulia dan disegani oleh bangsa jin). Dan lebih menakuti setan dibandingkan dengan penjajahan baru dan siksa kubur Sang Maha Pencipta.
Tema Cinta
– Mengecilkan persoalan hidup sesungguhnya. Seolah di dunia ini masalah terbesar adalah persoalan cinta. Bagaimana tidak “kejam”, masyarakat yang konon jika mengunakan standar kemiskinan dengan pendapatan 2 $ sehari hampir setengah dari penduduk Indonesia ini berada di bawah garis kemiskinan harus menyaksikan sinetron yang menampilkan anak-anak muda yang memiliki segalanya (fisik proporsional dan kekayaan yang melimpah). Konflik yang terjadi pun seputar cinta. Padahal di Indonesia tema yang seharusnya diangkat adalah kondisi realita bangsa ini, yaitu masalah KEMISKINAN. Agar masyarakat dapat memiliki daya juang untuk memperbaiki kondisi perekonomian. Bertentangan dengan apa yang disampaikan oleh Jeffrery Alexander di dalam bukunya The Media in Systematic, Historical, and Comparative Perspective yang dikutip dari buku Elihu Katz dan Szecsko Mass Media and Social Change bahwa media menjadi refleksi atau gambaran lingkungan sekitarnya. Sudut pandang yang diambil adalah peran media dalam menginformasikan potret kondisi lingkungan dengan mengemas dengan audio-visual tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kenyataan berbeda dengan kondisi realita yang ada.
– Salah satu riset yang terkenal dari McQuail dan kawan-kawan di Inggris pada tahun 1972 menemukan bukti bahwa orang yang melewati waktu menikmati media adalah untuk lari dari kehidupan nyata yang pahit (escape). Dan ragam escape ternyata bermacam-macam, berbeda menurut pelapisan sosial, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan dan lain-lain.
– Utopis. Bangsa kita diajarkan untuk berpikir singkat (instan). Seolah ukuran kesuksesan seseorang diukur dari banyaknya harta yang dapat terlihat dari rumah megah, mobil mewah, dan istri yang cantik. Hal yang sering ditampilkan oleh sinetron adalah anak-anak muda dengan penampilan necis yang memiliki “harta” melimpah, rumah megah, dan memiliki posisi di puncak kariernya tanpa asal usul yang jelas. Dapat dibayangkan apa yang terjadi dengan pemirsanya. Mereka hanya bisa melihat dan bermimpi. Bangsa kita belum layak menerima kenyataan seperti itu.
Kontraproduktif. Dengan melihat tayangan yang jauh dari kenyataan akan membuat produktivitas menjadi kontraproduktif. Ibu rumah tangga yang seharusnya membantu suami mereka meringankan beban hidup dibuai dengan mimpi dan keindahan dunia. Apa yang terjadi. Harapan tidak sesuai dengan kemyataan sehingga menimbulkan keputusasaan.
Tema Religi
– Maaf mengenai tema yang satu ini. Kita harus melihat secara objektif. Sinetron religi lebih banyak mencampuradukan antara hikmah dengan komersialisasi. Film yang mengambil tema ini sangat kental unsur komersilnya. Bukti sederhana adalah pemeran di dalam sinetron tema ini berperan sebagai “aktor” yang baik. Berperan sebagai “goodman” hanya di dalam film tetapi setelah itu kembali kepada karakter semula bahkan mencontohkan hal yang tidak pantas dipertontonkan di depan umum.
– Film-film dengan tema ini sifatnya hanya mengejar profit semata dengan minim perhatian terhadap pesan yang disampaikan. Banyak sisi religi justru berbeda dengan ajaran agama itu sendiri. Sebagai contoh adalah adegan-adegan di dalam film religi berlabel hikmah. Film tersebut menampilkan balasan terhadap orang-orang yang telah berbuat kemunkaran di dunia. Padahal siksaan bagi orang-orang yang berbuat kemunkanran berada di akhirat. Artinya apa yang terjadi di dunia merupakan ujian dan azab dan tidak azab tersebut tidak selalu sebuha hubungan sebab akibat. Ada pula adegan yang menampilkan pegangan tangan antara laki-laki dan perempuan bukan mukhrim.
Beberapa waktu lalu tak kurang dari 20 program sinetron tema religi tayang setiap minggunya. Stasiun berinisial R menampilkan “Pintu Hidayah” dan “Habibi dan Habibah”. Di stasiun T, ada “Rahasia Illahi” dan “Takdir Illahi”, di TV ada “Taubat”, “Hidayah” dan “Insyaf”. S tak ketinggalan dengan menayangkan “Astagfirullah”, “Kuasa Illahi”, ”Suratan Takdir”, dan “Kiamat Sudah Dekat”. Stasiun A menampilkan “Jalan ke Surga” dan “Nauzubillah Minzalik” dua kali sepekan. Sementara di I membawa “Titipan Illahi”. Ketika rating sinetron tema tersebut sudah tidak tinggi maka beralih ke tema lain yang sedang tinggi permintaannya. Hal ini membuktikan bahwa tidak adanya konsistensi untuk menyampaikan hikmah tetapi semata-mata hanya mengikuti tren untuk memperoleh keuntungan semata.
Pandangan Umum
– Secara umum sinetron hanya menjual fisik tanpa kualitas peran. Padahal insan seni adalah orang-orang yang menghargai karya seni dan mengemas karya tersebut menjadi sebuah tampilan yang menarik. Tetapi pada kenyataannya seni peran di dalam sinetron lebih mengedepankan tampilan fisik pemeran bukan pada kemampuan seni peran aktor dan artis. Sehingga kualitas sinetron menjadi tidak diperhatikan dan semata hanya mengejar keuntungan semata. Banyak artis baru yang bermunculan tanpa memiliki kualitas dan hanya bermodal tampang saja.
– Mendorong masyarakat berperilaku konsumtif. Derasnya adegan yang memberikan contoh gaya hidup mewah dan mengutamakan penampilan fisik.
– Mengesankan bangsa Indonesia bangsa yang makmur dan suka kemewahan. Konsep ini banyak diadopsi dari film-film India yang menampilkan kegemerlapan di antara kemiskinan bangsa.
– Tidak membawa budaya lokal bangsa atau pun budaya timur yang santun dan memiliki etika dalam berbusana sehingga terkikisnya dengan gaya busana barat yang terbuka.


     Saat ini pertelevisian Indonesia , membawa masyarakat kepada sesuatu yang membahayakan, kehadiran acara – acara yang dulunya di tayangkan untuk hiburan, saat ini ditayangkan hanya  untuk menaikan rating, menarik sponsor iklan, minat pemirsa, tanpa melihat sisi negatifnya dari tayangan yang telah mereka tayangkan yang membahayakan akan membentuk masyarakat jadi konsumtif dan hedonisme dikarenakan melihat kehidupan yang ada disinetron sedemikian glamor dan mewah.Oleh karena itu, mulai saat ini kita harus membiasakan menonton acara televise yang sehat dengan dimulai sejak dini agar berkembangnya tayangan yang lebih mendidik dan bermoral tinggi.

Sabtu, 26 Desember 2015

BAGAIMANAKAH KOPERASI YANG IDEAL ITU ?


     Disini saya akan membahas tentang bagaimanakah koperasi yang ideal itu ?, Tapi sebelum itu saya akan memberitahu tentang kriteria yang perlu dimiliki oleh calon pengurus koperasi. Setidaknya ada beberapa kriteria yang perlu dimiliki oleh calon pengurus koperasi agar dirinya layak dipilih menjadi pengurus. Antara lain :
1. Berani
Sejauh mana pengurus berani mengambil resiko? Jangan memilih orang yang hanya cari aman untuk jadi pengurus koperasi. Bisa stagnan koperasinya. Bisnis erat kaitannya dengan resiko, siapa yang tidak berani mengambil resiko, jangan berbisnis. Siapa yang tidak bisa berbisnis, jangan dipilih menjadi pengurus.
2. Punya integritas yang tinggi
Integritas berarti walk the talk and talk the walk. Melakukan apa yang ia katakan dan mengatakan apa yang ia lakukan. Bukan cuma orang yang omdo (omong doang) atau NATO (No Action Talk Only). Orang yang punya prinsip dan nilai yang dipegang teguh. Orang lain tahu karakter orang tersebut jika menghadapi tekanan seperti apa, jika menghadapi masalah seperti apa. Orang yang tidak mudah terombang-ambing oleh issue atau pendapat mayoritas.
Biasanya orang yang religius, dekat dengan Allah, rajin shalat berjamaah tepat waktu di masjid itu bisa jadi indikator bahwa orang tersebut punya integritas.
3. Berjiwa wirausaha
Berjiwa wirausaha identik dengan tahan banting, kreatif, mandiri, tidak mudah putus asa. Pilihlah pengurus yang jika memungkinkan punya pengalaman membangun bisnisnya sendiri. Pilihan terakhir adalah pengurus yang seumur hidup jadi orang gajian, agak sulit untuk menjadikan orang seperti ini untuk jadi pengurus. Minimal perlu diikutkan workshop dan pelatihan kewirausahaaan.
4. Berjiwa pemimpin
Pengurus adalah pimpinan tertinggi di koperasi, satu level dengan CEO dan Direktur Utama suatu perusahaan. Dan koperasi adalah perusahaan juga. Maju mundurnya suatu peruashaan sebagian besar terletak pada eksekutif tertingginya. Kemajuan perusahaan salah satunya terletak pada kemampuan sang eksekutif tertinggi untuk mengelola sumber daya yang ada secara benar. Sumber daya apa yang paling penting bagi sebuah organisasi? Tidak lain adalah manusianya. Dan bagaimana mengelola sumber daya manusia yang paling efektif? Adalah dengan memimpin. Bukan sekedar menyuruh atau memerintah. Pengurus must know how to lead effectively.
5. Punya kemampuan manajerial
Koperasi sekarang ini tidak bisa asal kelola, tidak bisa asal jalan. Kalau prinsipnya masih seperti itu, tergusur sudah koperasi dengan perusahaan-perusahaan swasta. Membuka minimarket jangan sekedar buka minimarket, jangan hanya sebagai syarat 'disini ada koperasi'. Membuka minimarket harus tahu ilmunya, ada yang namanya manajemen retail. Bagaimana mencari pemasok, bagaimana mengelola saluran distribusi, bagaimana menata barang dagangan, pricing, promosi, customer service dan lain-lain.
6. Mengerti tentang perkoperasian
Adakah pengurus yang tidak tahu tujuan dan prinsip koperasi? Banyak. Mengapa saya bilang begitu, karena umumnya pengurus hanya berfokus pada cara mengembangkan dan membesarkan koperasi, dari segi finansial. Tanpa memperhatikan jiwa dari koperasi. Pengurus yang seperti ini akan membawa koperasi tidak bedanya dengan perusahaan-perusahaan swasta,   hanya bertujuan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.
7. Punya keahlian interpersonal yang baik
Pendidikan perkoperasian adalah salah satu prinsip koperasi. Sasaran pendidikan ini terutama adalah anggota, karena anggota lah secara bersama-sama yang menentukan jalannya koperasi. Pendidikan perkoperasian ini tidak dilakukan dengan sekali atau beberapa kali memberikan penyuluhan atau seminar umum. Pendidikan koperasi akan jauh lebih efektif jika dilakukan dengan pendekatan personal dan berangsur-angsur. Mendekati dan memberikan pemahaman tentang koperasi kepada orang per orang, kelompok per kelompok. Disinilah peran keahlian interpersonal. Bagaimana pengurus dapat memengaruhi para anggota koperasi untuk bersama-sama memajukan koperasi.
     Anggota harus lebih jeli dalam memilih pengurus, pilihalah berdasarkan kualitas individu bukan popularitas. Karena koperasi dijalankan dengan mengandalkan kualitas seseorang, keberaniannya, integritas, semangat wirausaha, kepemimpinan, kemampuan manajerial, pemahaman terhadap koperasi dan kemampuan intrapersonal. Bukan dengan modal terkenal. Panitia pemilihan pengurus pun harus benar-benar melakukan seleksi, jangan hanya sekedar voting, harus ada fit and proper test. Jadi calon-calon yang diajukan menjadi pengurus dalam rapat anggota adalah benar-benar calon yang sudah teruji kualitasnya.
     Setiap koperasi harus mampu menunjukkan jati dirinya sebagai badan usaha yang dibentuk untuk tujuan mulia dan demi kepentingan bersama berdasarkan ajaran Allah SWT. Citra sekaligus idealisme yang berlandaskan moral dan ajaran agama harus selalu diutamakan agar tidak terjebak dalam urusan yang akan merosakkan koperasi.
     Semua itu menjadi penting kerana selama ini ada kecenderungan koperasi dibentuk dengan tujuan yang terkadang menyimpang dari asas-asas perkoperasian itu sendiri. Bahkan terdapat juga koperasi yang ditubuhkan sekadar alat untuk mencari keuntungan peribadi atau dikelola dengan cara yang tidak profesional.
     Untuk mewujudkan koperasi yang dapat berkembang secara positif tidaklah semudah yang dijangkakan. Perlu ada kerjasama antara pengurus dan ahli serta majunya sesuatu koperasi pada dasarnya ditentukan oleh :
1.                  Tujuan pembentukkan koperasi itu sendiri. Ia haruslah ideal, sesuai dengan keadaan dan yang paling penting dipersetujui oleh semua ahli.
2.                 Komitmennya pengurus dan ahli terhadap koperasi, tujuan positif, peraturan dan pengembangannya. Dalam hal ini setiap pengurus harus memiliki idealisme dengan dasar moral yang baik. Dengan idealisme itulah mereka akan memiliki komitmen yang baik terhadap perkoperasian.
3.                 Profesionalismenya pengurus dalam pengurusan koperasi dan mengetahui tuntutan semasa.
     Usaha suatu koperasi yang sudah berjalan dan maju, adakalanya berhenti atau bahkan terkubur jikalau satu atau ketiga hal tersebut diketepikan. Atas dasar itulah, untuk dapat diwujudkannya suatu koperasi yang ideal dan pengurusan koperasi yang profesional tentu dimemerlukan  adanya:
1. Pemahaman sekaligus komitmen setiap ahli dan pengurus terhadap hakikat dan realiti serta tujuan dari suatu koperasi yang ideal. Koperasi yang ideal itu yang bagaimana?
Koperasi yang ideal adalah suatu koperasi yang dibentuk dengan semangat kesamaan dan dijadikan bahan yang potensi untuk:
·                     Melakukan kegiatan ekonomi (usaha) bersama bagi kepentingan (untuk memenuhi keperluan) bersama dengan semangat kekeluargaan, gotong royong dan musyawarah.
·                     Meningkatkan persatuan dan kesatuan di kalangan ahli serta berbagai pihak yang ada.
·                     Belajar melakukan kegiatan ekonomi (usaha) -bagi yang belum pernah melakukan kegiatan usaha.
·                     Membantu khususnya ahli dalam memenuhi kehendak ekonominya. Termasuk masalah kewangan.
·                     Memantapkan orentasi yang positif pada diri ahli agar koperasi dapat dijadikan sebagai suatu unit kegiatan bersama.
2. Komitmen setiap pengurus dan ahli terhadap hakikat koperasi, tujuan positif, peraturan yang ada dan pengembangan koperasinya.
Setiap pengurus harus memiliki idealisme dengan dasar moral yang baik. Dengan idealisme itulah mereka akan memiliki komitmen yang baik terhadap perkoperasian.
Dalam hal ini, anggota dan pengurus, pengawas mahupun pembina koperasi harus memiliki komitmen yang baik terhadap hakikat koperasi, tujuan positif, peraturan dan pengembangannya. Komitmen ini adalah modal dasar untuk dikelola dan dikembangkan secara baik dan benar, serta memberi manfaat bersama, sehingga diharapkan anggota, pengelola, pengawas dan pembina koperasi dapat selalu:
·                     Memiliki semangat untuk selalu memajukan koperasi dan bertanggungjawab secara penuh demi kemajuan koperasi.
·                     Mendahului moral dan mental yang baik dalam kehidupan seharian.

·                     Menghindarkan diri dari perbuatan tercela atau hal-hal yang dapat merosakkan jati diri koperasi.