BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Upacara minum teh merupakan upacara tradisi budaya turun
temurun yang silakukan Jepang sejak sebelum zaman edo. Upacara minum teh ini
hingga sekarang masih tetap dilestarikan. Upaacara minum teh di Jepang memiliki
makna kehidupan yang sangat dalam dan sebuah ajaran tata karma yang baik
disamping banyaknya manfaat upacara ini dalam bidang kesehatan
1.2
Rumusan Masalah
1.
Sejarah lahirnya budaya minum teh di Jepang
2.
Sekilas tentang budaya minum teh di Jepang
3.Manfaat
dan tujuan upacara minum teh di Jepang
4.
Prosesi upacara minum teh di Jepang
5.
Makna upacara minum teh di Jepang
6.
Jenis jenis teh yang disajikan dalam upacara minum teh di Jepang
7.
Perbedaan teh Jepang dan teh China
8.
Jenis Jenis upacara minum teh di Jepang
1.3 Tujuan
Penelitian
Tujuan disusunnya
makalah “Upacara Minum Teh di Jepang” ini adalah supaya siswa mampu mengerti
akan makna dari pacara minum teh di Jepang sebagai pembelajaran hidup dan
atauran tata karma yang baik.
1.4 Manfaat penelitian
Hasil
dari skripsi ini diharapkan dapat membantu para pembaca dalam mengetahui
sejarah masuknya budaya
minum
teh diJepang.
1.5 Metode Penelitian
Metode
penelitian merupakan struktur yang sangat penting, karena berhasil tidaknya,
demikian rendahnya hasil kualitas penelitian, sangat ditentukan oleh ketepatan
peneliti dalam memilih metode
penelitian. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode
kepustakaan ( library research ), yaitupenelitian yang dilakukan dengan membaca
dan mengumpulkan data yang berkaitan
dengan topik permasalahan, baik dari buku-buku, skripsi, majalah, dan
artikel-artikel yang terdapat di internet.
1.6 Sumber
Data
Di Internet.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah
lahirrnya budaya minum teh di Jepang
Produksi
teh dan tradisi minum teh dimulai sejak zaman
Heian setelah
teh dibawa masuk ke Jepang oleh duta kaisar yang dikirim ke dinasti Tang.
Literatur klasik Nihon Kōki menulis tentang Kaisar Saga yang sangat terkesan dengan teh
yang disuguhkan pendeta bernama Eichu sewaktu mengunjungi Provinsi Ōmi di tahun 815. Catatan dalam Nihon Kōki merupakan
sejarah tertulis pertama tentang tradisi minum teh di Jepang.
Teh
dibuat dengan cara merebus teh di dalam air panas dan hanya dinikmati di
beberapa kuil agama Buddha. Penanaman teh lalu mulai dilakukan di mana-mana
sejalan dengan makin meluasnya kebiasaan minum teh.
Acara
minum teh menjadi populer di kalangan daimyo yang mengadakan upacara minum teh
secara mewah menggunakan perangkat minum teh dari Tiongkok. Acara minum teh
seperti ini dikenal sebagai Karamono suki dan ditentang oleh nenek moyang ahli minum
teh Jepang yang bernama Murata Jukō. Menurut Jukō, minuman keras dan
perjudian harus dilarang dari acara minum teh. Acara minum teh juga harus
merupakan sarana pertukaran pengalaman spiritual antara pihak tuan rumah dan
pihak yang dijamu. Acara minum teh yang diperkenalkan Jukō merupakan asal-usul
upacara minum teh aliran Wabicha.
Sampai
di awal zaman Edo, ahli upacara minum teh sebagian besar terdiri dari
kalangan terbatas seperti daimyo dan pedagang yang sangat kaya. Memasuki
pertengahan zaman Edo, penduduk kota yang sudah sukses secara ekonomi dan
membentuk kalangan menengah atas secara beramai-ramai menjadi peminat upacara
minum teh.
Kalangan
penduduk kota yang berminat mempelajari upacara minum teh disambut dengan
tangan terbuka oleh aliran Sansenke (tiga aliran Senke: Omotesenke, Urasenke dan Mushanokōjisenke) dan pecahan aliran Senke.
Kepopuleran
upacara minum teh menyebabkan jumlah murid menjadi semakin banyak sehingga
perlu diatur dengan suatu sistem. Iemoto seido adalah peraturan yang lahir dari
kebutuhan mengatur hirarki antara guru dan murid dalam seni tradisional Jepang.
Berbagai
aliran upacara minum teh berusaha menarik minat semua orang untuk belajar
upacara minum teh, sehingga upacara minum teh makin populer di seluruh Jepang.
Upacara minum teh yang semakin populer di kalangan rakyat juga berdampak buruk
terhadap upacara minum teh yang mulai dilakukan tidak secara serius seperti
sedang bermain-main. Sebagian guru upacara minum teh berusaha mencegah
kemunduran dalam upacara minum teh dengan menekankan pentingnya nilai spiritual
dalam upacara minum teh.
Memasuki
akhir zaman Edo, upacara minum teh yang menggunakan matcha yang disempurnakan kalangan samurai
menjadi tidak populer di kalangan masyarakat karena tata krama yang kaku.
Masyarakat umumnya menginginkan upacara minum teh yang bisa dinikmati dengan
lebih santai. Pada waktu itu, orang mulai menaruh perhatian pada teh sencha yang biasa dinikmati sehari-hari.
Upacara minum teh yang menggunakan sencha juga mulai diinginkan orang banyak.
Berdasarkan permintaan orang banyak, pendeta Baisaō yang dikenal juga sebagai Kō Yūgai menciptakan aliran upacara minum
teh dengan sencha (Senchadō) yang menjadi mapan dan populer di
kalangan sastrawan.
2.2 Sekilas
tentang budaya upacara minum teh di Jepang
Budaya
minum teh merupakan sebuah tradisi yang sudah dilakukan oleh masyarakat Jepang
dari dulu yang hingga kini tetao di lestarikan. Upacara minum teh merupakan
upacara penyambutan tuan rumah kepada tamu dengan cara menyajikan teh. Upacara
minum teh yang diadakan di luar ruangan disebut nodate. Jika di dalam ruangan
disebut chato. Biasanya para tuan rumah menyediakan bunga, lukisan, dan keramik
yang indah untuk menyambut para tamu dalam upacara minum teh ini.
“Upacara
ini mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup tujuan
hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara
meletakkan benda seni dalam ruangan upacara minum teh.
Lukisan dinding yang biasanya dipasang pada
ruangan tempat upacara minum teh disebut kakejiku. Bunga yang biasanya
dipasang pada ruangan tempat upacara minum teh disebut chabana. Biasanya dalam
upacara minum teh menggunakan teh matcha yakni teh yang digiling halus. Upacara
minum teh menggunakan matcha disebut matchado. Namun kadang kala juga bias
menggunakan teh hijau jenis sencha. Upacara minum teh dengan teh ini
disebut senchado. Dalam upacara ini juga disajikan kue manis yakni Okashi.
2.3
Manfaat upacara minum teh di Jepang
Upacara
minum teh di Jepang yang sudah menjadi tradisi budaya Jepang turun menurun
memiliki banyak manfaat antara lain
1.
Teh
yang disajikan baik untuk kesehatan
Teh
yang disajikan dalam upacara minum teh memiliki banyak manfaat antara lain :
1.
Memperkuat
gigi
2.
Memperkuat
daya tahan tubuh
3.
Mencegah
hipertensi
4.
Menyegarkan
tubuh
5.
Sebagai
penetralisir
6.
Menangkal
kolestrol
7.
Mencegah
kanker
8.
Mengoptimalkan
metabolisme gula
1.
Prosesi
upacara minum teh merupakan sebuah pembelajaran tata karma
Dalam
prosesi upacara minum teh banyak makna makna kehidupan yang terkandung di
dalamnya seperti prosesi saling memberi hormat antara tamu dan penerima tamu
yang bermakna saling menghormati dan setiap orang harus menghormati tamu.
Prosesi pemberian kue manis atau okashi yang mana harus dihabiskan oleh tamu
merupakan bentuk penghargaan dari tuan rumah untuk menyambut tamu dan tamu yang
mendapat kue okashi harus menghabiskannya sebagai rasa syukur akan pemberian
tamu juga sebagai bentuk penghormatan. Pada saat Tea Master membuat teh, setiap
gerakan yang dilakukan sangat hati hati dan penuh kesabaran dan tidak boleh
tergesa gesa hal ini bermakna seseorang harus melakukan sesuatu secara hati
hati dan sabar. Untuk membuat teh dibutuhkan perlengkapan 1 tungku hitam besar,
1 mangkuk disebut Chawan dan 1 wadah berisi bubuk matcha (salah satu
jenis teh) yang disebut Natsume, juga ada beberapa peralatan yang
sederhana lainnya, salah satunya adalah “kocokan” teh yang terbuat dari bambu
yang mekar disebut Chasen, lalu sendok kayu yang panjang pipih untuk
mengambil bubuk teh disebut Chasaku dan sendok air yang juga terbuat
dari bambu. Meminum teh pun tidak bisa sembarangan. Mangkuk teh yang disajikan
diletakkan dengan sangat hati-hati karena yang menyajikan harus memastikan
bahwa motif terbaik dari mangkuk teh tersebut harus menghadap ke arah tamu.
Karena itu adalah sisi yang paling baik, maka tidak sopan pula bagi tamu untuk
meminum langsung dari sisi tersebut. Jadi peminum teh juga harus memutar
mangkuk teh agar posisi motif menghadap tuan rumah sebagai tanda terima kasih
dan menghormati.
1.
Pertukaran
pengalaman spiritual antara pihak tuan rumah dan pihak yang dijamu.
2.
Adanya
budidaya teh menambah lapangan usaha masyarakat Jepang
Saat
ini, teh daun untuk teh hijau yang tumbuh di daerah selatan yang lebih hangat
dari Jepang, dengan sekitar setengah diproduksi di Prefektur Shizuoka. Uji,
sebuah distrik dekat kota kuno Kyoto (dan distrik dari mana teh Jepang terbaik
berasal dari sampai hari ini) menjadi wilayah teh yang tumbuh pertama di
Jepang. Kemudian, perkebunan teh ditanam di Prefektur Shizuoka dan akhirnya ke
daerah sekitarnya. Sebanyak sekitar 100.000 ton teh hijau diproduksi per tahun
dari 60.000 hektar ladang teh. Hanya teh hijau diproduksi di Jepang.
Meskipun
secara tradisional teh hijau diproduksi secara manual, proses ini telah
sepenuhnya mekanik di Jepang. Berbagai jenis teh sekarang diproduksi berbeda
sesuai dengan praktek-praktek budidaya dan pengolahan metode. Sencha adalah teh
dengan tiga tingkat kualitas: tinggi, sedang, dan rendah. Hal ini dibuat dari
tender atas dua daun dan tunas untuk nilai tinggi dan menengah dan dari ketiga
dari daun teratas untuk kelas rendah.
Sencha,
yang terdiri 80% dari seluruh produksi teh hijau, terdiri dari kecil hijau
gelap berbentuk jarum buah. Hampir segera setelah pemetikan, daun dikukus
selama sekitar 30 detik untuk menyegel rasa, diikuti dengan pengeringan,
menekan, dan rolling langkah.
“Gyokura
adalah grade tertinggi teh dan terbuat dari daun paling lembut yang tumbuh di
bawah naungan 90% menggunakan tirai bambu. Matcha dibuat dari daun yang sama
dan diolah menjadi bentuk bubuk untuk penggunaan eksklusif dalam upacara minum
teh. Bancha adalah teh kelas rendah kasar terbuat dari daun tua setelah
mengambil Sencha daun dipetik atau diambil di musim panas. Hal ini umumnya
terdiri dari daun teh kelas lebih rendah, yang terbagi menjadi dua macam: daun
besar, dan daun kecil.
Tujuan
adanya upacara minum teh di Jepang
Upacara
minum teh merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi dengan manusia dan alam
sekitar. Upacara minum teh bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang rileks
(santai) antara tuan rumah dan tamu.
2.4
Prosesi upacara minum teh di Jepang
Upacara
minum teh di Jepang terdiri atas beebrapa prosesi. Berikut prosesi upacara minum
teh aliran urasenka :
1.
Tamu
masuk dan tuan rumah mempersilakan tamu
2.
Tamu
dan penerima tamu saling mengucap salam
3.
Pemberian
kue manis bernama Okashi
1.
Saling
member salam sesaat setelah pemberian koe Okashi sebagai bentuk rasa hormat
2.
Kue
Okashi dimakan menggunakan tusukan bamboo harus dihabiskan untuk menghormati
tuan rumah (maka dari itu kue ini biasanya sedikit dan kecil)
3.
Pembuatan
teh oleh Tea Master
1.
Setelah
teh dibuat lalu disuguhkan kepada tamu dengan mangkuk teh dimana motif mangkuk
menghadap tamu sebagai tanda penghormatan
1.
Tamu
mengambil mangkuk teh dan juga memutar mangkuk agar motif mangkuk teh menghadap
tuan rumah sebanyak 3 kali sebagai tanda terima kasih dan rasa hormat.
2.
Kemudian
tamu mulai meminum teh
2.5
Makna upacara minum teh di Jepang
Upacara minum teh di Jepang banyak mengandung makna
kehidupan. Setiap prosesi yang ada dalam upacara minum teh di Jepang mengandung
setiap makna. Prosesi saling memberi hormat antara tamu dan penerima tamu yang
bermakna saling menghormati dan setiap orang harus menghormati tamu. Prosesi
pemberian kue manis atau okashi yang mana harus dihabiskan oleh tamu merupakan
bentuk penghargaan dari tuan rumah untuk menyambut tamu dan tamu yang mendapat
kue okashi harus menghabiskannya sebagai rasa syukur akan pemberian tamu juga
sebagai bentuk penghormatan. Pada saat Tea Master membuat teh, setiap gerakan
yang dilakukan sangat hati hati dan penuh kesabaran dan tidak boleh tergesa
gesa hal ini bermakna seseorang harus melakukan sesuatu secara hati hati dan
sabar. Meminum teh pun tidak bisa sembarangan. Mangkuk teh yang disajikan
diletakkan dengan sangat hati-hati karena yang menyajikan harus memastikan
bahwa motif terbaik dari mangkuk teh tersebut harus menghadap ke arah tamu.
Karena itu adalah sisi yang paling baik, maka tidak sopan pula bagi tamu untuk
meminum langsung dari sisi tersebut. Jadi peminum teh juga harus memutar
mangkuk teh agar posisi motif menghadap tuan rumah sebagai tanda terima kasih
dan menghormati.
“Bahwa
upacara minum teh itu sakral sifatnya. Sekaligus menggambarkan bahwa “yang
penting bukan ketika teh dihirup melainkan bagaimana proses membuatnya”. Dalam
proses pembuatan teh lalu menghidangkannya dengan aturan yang gemulai alami
membuat kita teringat “diri”, teringat alam, teringat perjalanan hidup, teringat
darimana kita datang da ke arah mana kita pergi.
Harmoni,
keseimbangan adalah “jalan hidup” yang setiap kali harus di rawat, ditata,
dilatih dalam proses gemulai. Halus. Tak terburu buru.
2.6
Jenis jenis teh yang disajikan dalam upacara minum teh di Jepang
- Green
Tea, atau sering disebut dengan teh hijau. Teh hijau memiliki banyak
manfaat oleh sebab itu teh hijau sering digunakan dalam upacara minum teh.
- Gyokuro,
teh ini tumbuh dengan tidak menerima sinar matahari secara langsung hal
ini menjadikan aroma dari teh ini sangat harum.
- Matcha,
merupakan teh hijau bubuk yang sangat tinggi kualitasnya. Hla ini
menjadikan teh ini sering digunakan dalam upacara minum teh di Jepang.
- Sencha,
teh ini sangat sering ditemui. Dalam upacara minum teh di Jepang sering
menggunakan teh ini bias jadi karena mudahnya bahan baku. Teh ini ditanam
dengan mendapatkan sinar matahari secara langsung.
- Genmaicha,
campuran teh maicha dan beras merah yang telah dipanggang.
- Kabusecha,
merupakan teh yang dilindungi dari sinar matahari daunnya sebelum di
panen.
- Bancha,
merupakan sencha yang dipanen pada musim kedua.
- Houjicha,
merupakan teh hijau yang dipanggang.
- Kukicha,
berasal dari tiap pucuk tanaman teh, dengan memetik bagian bunga dan tiga
helai daunnya.
- Tamaryokucha,
merupakan teh yang memiliki aroma yang sangat tajam
2.7
Perbedaan teh Jepang dan teh China
Di
aras telah disinggung tentang macam macam teh Jepang yang biasa dipakai untuk
upacara minum teh di Jepang atau Ocha. Di Cina juga terdapat upacara minum teh.
Berikut sekilas tentang teh Cina :
“Negeri
Cina menjadi tempat lahirnya teh,
disanalah pohon teh Cina (Camellia sinensis) ditemukan dan berasal. Tepatnya di
provisnsi Yunnan, bagian barat daya Cina. Iklim wilayah itu tropis dan
sub-tropis, dimana daerah tersebut memang secara keseluruhan adalah hutan jaman
purba. Daerah demikian, yang hangat dan lembab menjadi tempat yang sangat cocok
bagi tanaman teh, bahkan ada teh liar yang berumur 2,700 tahun dan selebihnya
tanaman teh yang ditanam yang mencapai usia 800 tahun ditemukan ditempat ini.
“Tanaman
Teh Cina (kadang-kadang disebut Camellia sinensis var. sinensis)
adalah semak berdaun kecil dengan banyak cabang yang mencapai tinggi sekitar 3
meter dan berasal dari Cina tenggara. tanaman teh pertama yang ditemukan,
tercatat dan dipakai untuk menghasilkan teh tiga ribu tahun yang lalu, ia
menghasilkan beberapa teh yang terpopuler.
2.8
Jenis jenis upacara minum teh
Adapun
jenis jenis upacara minum teh di Jepang antara lain :
1.
Chabako
Demae
Upacara
minum teh ini menempatkan peralatan minum teh di sebuah kotak khusus.
2.
Ryu-Rei
Teh
yang disajikan dalam upacara ini diletakkan dalam meja khusus. Pada awal dan
akhir upacara akan dilakukan penghormatan dengan membungkukkan badan. Biasanya
tuan rumah memerlukan asisten.
3.
Hakobi Demae
Dilakukan
dengan posisi seiza dan peralatan teh dibawa keluar masuk ruangan upacara minum
teh.
4.
Urasenka
Upacara
jenis ini merupakan jenis upacara yang sangat popular. Biasanya tamu duduk
bersimpuh di atas tatami kemudian diberikannya kue oleh tuan rumah untuk
dimakan oleh tamu. Upacara minum teh tidak akan dimulai sebelum tamu
menghabiskan kue yang dihidangkan tersebut.
5.
Obon Temae
Dalam
upacara jenis ini tuan rumah akan membawa peralatan untuk menyajikan teh.
Kemudian seluruh peralatan ditutup dengan fukusa. Teh encer akan dihidangkan
dengan posisi seiza.
BAB III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Budaya minum teh merupakan sebuah tradisi yang sudah
dilakukan oleh masyarakat Jepang dari dulu yang hingga kini tetao di
lestarikan. Upacara minum teh merupakan upacara penyambutan tuan rumah kepada
tamu dengan cara menyajikan teh. Upacara minum teh yang diadakan di luar
ruangan disebut nodate. Jika di dalam ruangan disebut chato. Biasanya para tuan
rumah menyediakan bunga, lukisan, dan keramik yang indah untuk menyambut para
tamu dalam upacara minum teh ini.
Lukisan dinding yang biasanya dipasang pada ruangan tempat
upacara minum teh disebut kakejiku. Bunga yang biasanya dipasang pada ruangan
tempat upacara minum teh disebut chabana. Biasanya dalam upacara minum teh
menggunakan teh matcha yakni teh yang digiling halus. Upacara minum teh
menggunakan matcha disebut matchado. Namun kadang kala juga bias menggunakan
teh hijau jenis sencha. Upacara minum teh dengan teh ini disebut
senchado. Dalam upacara ini juga disajikan kue manis yakni Okashi.
3.2
Saran
Mahasiswa
diharapkan mampu untuk melestarikan kebudayaan dari negeri mereka dengan
berkaca pada Jepang yang mampu melestarikan budaya mereka. Masyarakat Indonesia
seharusnya juga bersemangat dalam melestarikan budaya Indonesia hingga terjaga
lestari dan tidak diperebutkan oleh bangsa lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Melati, HP (2008). Teh Magic of
Tea, Sejuta khasiat dan kisah dibalik secangkir teh. Cilandak: Hikmah.
Rossi, Are (2010). 1001 Teh, dari
asal usul, tradisi, khasiat, hingga racikan teh. Menteng:C.V Andi
Arge, Rahman (2008). 200 kolom
pilihan, Permainan kekuasaan. Jakarta :Penerbit Buku Kompas
Vito, Yoseph. Tea. Great
Publisher
Media Elektronik Kompas
[1] Joseph Vito, Teh, hlm. 37.
[3] Rahman Arge, Permainan Kekuasaan,
(Jakarta : Kompas Media Nusantara, 2008) hal. 209
Tidak ada komentar:
Posting Komentar